Di tengah kehidupan semakin sulit, warga Jakarta juga dipusingkan biaya tahun ajaran baru putra-putri mereka. Maklum, masuk sekolah khususnya SMA berkualitas yahud dikenakan biaya selangit alias mahal.

Bagi warga yang berkantong tebal demi anaknya mendapatkan sekolah berkualitas, mungkin tidak masalah. Sebaliknya bagi mereka yang melarat untuk memasukkan anak pada sekolah berkualitas yahud, hanya mimpi belaka.

Masuk SMAN bertaraf internasional, orangtua harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah. Misalnya, masuk SMAN 70 berstatus unggulan bertaraf internasional pada tahun kemarin (ajaran 2007/2008) dikenakan pungutan Rp30 juta/murid. Tidak hanya duitnya yang mahal, tapi otaknya juga harus encer dan lulus psikotest, tes Bahasa Inggris. Nilainya juga harus tinggi atau sembilan.

Pono Fadlullah, Kepala SMAN 70, menjelaskan pihaknya menerima siswa dengan empat kategori yakni kelas regular, kelas menuju internasional, kelas internasional dan kelas akselerasi (kelas percepatan). “Untuk masuk bisa masuk kelas internasional selain lulus tes juga dikenakan Rp30 juta,” katanya, Minggu (18/5).

Model pembelajaran kelas internasional, lanjutnya, sekolah mengacu kepada sistem Cambridge University. Syarat nilai tahun lalu tertinggi 28,67 dan terendah 27,49 untuk tiga mata pelajaran.

Di SMAN 70 juga menerima siswa regular. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Burhanuddin Spd, soal besarnya biaya masuk kelas reguler tahun 2008/2009 belum ditentukan. Nantinya akan ditentukan komite sekolah yang melibatkan orangtua siswa sesuai Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS).

Hanya saja dia menjelaskan bila tahun lalu besarnya uang masuk berkisar Rp5 – Rp6 juta per siswa baru. “Di sini menerapkan subsidi silang.”

SEKOLAH INTERNASIONAL
Di SMAN 21 yang juga menyelenggarakan sekolah bertaraf internasional, menurut Kepala Sekolah Supriyono Syukur, biaya iuran peserta didik baru (IPDB) mencapai Rp23 juta. Di sekolahnya juga terdapat sekolah kelas regular untuk tahun 2007/2008 dikenakan pungutan Rp5 juta. “Keputusan diserahkan kepada orangtua siswa dan komite sekolah. Kalau ada orang tua siswa yang tidak sanggup, akan diberi keringanan.”

Yusen Hardiman, Humas Dinas Pendidikan Menengah Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta, menjelaskan di DKI Jakarta, SMA bertaraf internasional tersedia pada SMAN 8, SMAN 13, SMAN 21, SMAN 28, SMAN 61, SMAN 68, SMAN 70, SMAN 78, SMAN 81 dan dua swasta Lab School serta SMA Al- Azhar. “Keunggulannya siswa yang lulus dari sekolah bertaraf internasional, akan mudah bersekolah di luar negeri.”

SEKOLAH SWASTA
Bukan hanya SMAN yang bertaraf internasional saja yang mahal, untuk masuk SMA swasta dengan kualitas serupa biayanya juga selangit. Informasi yang diperoleh di Jubilee School kawasan Sunter, Jakarta, untuk biaya masuk SD program nasional dikenakan berkisar 2.000 dolar AS (Rp18 juta) ditambah uang bulanan Rp1,2 juta, sedangkan program internasional fully english bayaran per tahun Rp30 juta.

Swasta yagng sama memungut biaya masuk SMP program nasional Rp16 juta dan uang bulanan Rp1,2 juta, untuk program internasional sebesar 2.000 dolar AS (Rp 18 juta) berikut biaya pendidikan Rp35 juta/tahun. “Uang sebesar itu, belum termasuk ongkos transportasi atau antar-jemput mobil berkisar Rp400.000/bulan,” kata Anthony, orangtua siswa di kawasan Sunter.

Tingginya biaya, dianggapnya, cukup memadai dengan manfaat ilmu yang didapat anak. “Anak saya baru SMP tapi sudah fasih berbahasa Inggris dan Mandarin, tanpa kursus di luaran lagi,” tambahnya pula.

Menurut petugas bagian informasi lembaga pendidikan tersebut, Kiki, fasilitas yang terdapat di sekolah antara lain pendidikan berkualitas, penguasaan bahasa asing seperti Inggris dan Mandarin, serta fasilitas olahraga antara lain renang, basket, futsal.

Sekolah mahal berkualitas oke juga disandang SMA Al-Azhar. Biaya masuk SMA berlokasi di Kebayoran Baru ini, orangtua siswa harus menyiapkan uang pangkal sekitar Rp16 juta, ditambah uang SPP Rp800 ribu/bulan, OSIS Rp150 ribu/tahun, uang jumiyah Rp120 ribu/tahun.

“Untuk uang lainnya kemungkinan masih ada setelah calon siswa diterima,” ujar Ny. Eti, staf penerimaan calon siswa di SMA Al Azhar, Kebayoran Baru.

TERJANGKAU KANTONG
Mahalnya SMAN favorite atau bertaraf internasional, sebagian besar warga ketika dimintai tanggapannya langsung mengaku pusing.

Ny. Ida, warga Mampang Prapatan, misalnya, mengaku untuk menyekolahkan anaknya di SMAN yang terkenal atau favorit masih harus berhitung dengan jari tangannya. “Jangankan untuk mikirkan sekolah anak, buat makan sehari-hari saja sudah sulit. Apalagi harga kebutuhan pokok sekarang ini terus merangkak naik.”

Ia berharap anaknya bisa masuk sekolah yang berkualitas tetapi biayanya terjangkau kantong. “Nggak usah mimpi masuk SMAN bertaraf internasional, yang nasional dan regional asal lumayan berkualitas juga oke.”

Komentar serupa juga diutarakan Ny. Warsini, warga Kemayoran. “Maunya sih anak-anak bisa masuk SMA yang bermutu, tapi kalau mahal ya kami mundur.”

Imbas mahalnya biaya sekolah banyak juga siswa yang putus sekolah. Di Jakarta, sesuai dengan data Dikementi DKI Jakarta sekitar tiga ribu siswa SMA dan SMK putus sekolah.

Anggota Komisi E DPRD DKI, Selamat Nurdin sangat prihatin atas kondisi tersebut. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DKI ini mendesak Gubernur Fauzi Bowo untuk membuat peraturan pembatasan besarnya biaya masuk sekolah. “Gubernur harus mengeluarkan peraturan untuk mengatur masalah ini.”

Post a Comment

*
*